A:
Hujan pun turun lagi
B:
Berteduh saja di hatiku agar tak kena hujan
A:
Bagaimana bisa aku berteduh?
Sementara embun masih belum selesai menetes
Di antara semak-semak belukar pagi
B:
??
A:
Dan hujan turun lagi
Menelungkupkan daun-daun pagi
Meninggalkan bunga-bunga yang terlanjur mekar
Ada setangkai bunga yang hendak-hendak senyum malu
Menunggu mataharinya di pagi ini
Bilamana bunga itu merekahkan senyumnya?
Sementara mataharinya tak kunjung terik
Masih bersembunyi malu dibalik mendung
Dan turun bersama dinginnya hujan
Oohhh..
Hujan turun lagi
Suaranya berdecik-decik
Membangunkan hati-hati yang sedang menunggu
Yang membuat mata ini nanar menatap setiap butirannya
B:
Lalu, sadarkah engkau?
Dikala hati menunggu ia menyimpan sejuta harapan
Dan ketika harapan itu ada,
Berjuta mimpi membeludak bagai bendungan air dibatas penampungan
A:
Ya...
Tapi...
Aku masih khawatir
Akankah butiran-butiran tadi akan sampai di samudra hatinya
Atau hanya hujan akan terhenti
B:
Tidakkah kekhawatiranmu hanya menyiksamu?
Berhentilah...
Pada satu titik yang ia namakan dermaga
Sapalah ia.. dan sambutlah ia dikala penantiannya yang tak kunjung berakhir
Wahai hujan... berhentilah membuat ku selalu berharap dalam gelapnya awan gelapmu
Biarkan matahariku menampakkan dirinya dalam setiap hariku
Dan untukmu embun.... sejukkan pagiku sebelum matahariku datang
Agar aku selalu sabar menantinya
Ini adalah puisi dalam bentuk dialog pertama yang saya buat.
Puisi ini saya buat bersama Khairy Chasanah, thank you for helping me Khairy, it's a nice of you.
Hujan pun turun lagi
B:
Berteduh saja di hatiku agar tak kena hujan
A:
Bagaimana bisa aku berteduh?
Sementara embun masih belum selesai menetes
Di antara semak-semak belukar pagi
B:
??
A:
Dan hujan turun lagi
Menelungkupkan daun-daun pagi
Meninggalkan bunga-bunga yang terlanjur mekar
Ada setangkai bunga yang hendak-hendak senyum malu
Menunggu mataharinya di pagi ini
Bilamana bunga itu merekahkan senyumnya?
Sementara mataharinya tak kunjung terik
Masih bersembunyi malu dibalik mendung
Dan turun bersama dinginnya hujan
Oohhh..
Hujan turun lagi
Suaranya berdecik-decik
Membangunkan hati-hati yang sedang menunggu
Yang membuat mata ini nanar menatap setiap butirannya
B:
Lalu, sadarkah engkau?
Dikala hati menunggu ia menyimpan sejuta harapan
Dan ketika harapan itu ada,
Berjuta mimpi membeludak bagai bendungan air dibatas penampungan
A:
Ya...
Tapi...
Aku masih khawatir
Akankah butiran-butiran tadi akan sampai di samudra hatinya
Atau hanya hujan akan terhenti
B:
Tidakkah kekhawatiranmu hanya menyiksamu?
Berhentilah...
Pada satu titik yang ia namakan dermaga
Sapalah ia.. dan sambutlah ia dikala penantiannya yang tak kunjung berakhir
Wahai hujan... berhentilah membuat ku selalu berharap dalam gelapnya awan gelapmu
Biarkan matahariku menampakkan dirinya dalam setiap hariku
Dan untukmu embun.... sejukkan pagiku sebelum matahariku datang
Agar aku selalu sabar menantinya
Ini adalah puisi dalam bentuk dialog pertama yang saya buat.
Puisi ini saya buat bersama Khairy Chasanah, thank you for helping me Khairy, it's a nice of you.
2 comments:
Belum pernah lihat model puisi kayak gini. Terus berkarya ya...
:D
Thank you sobat. Doakan saja puisi saya nanti jadi sebuah buku.
Post a Comment